PALANGKA RAYA rubrikalteng.com
Kamis, 16 April 2026.
Di tengah bentang luas wilayah Kalimantan Tengah yang didominasi hutan, sungai, dan desa-desa terpencil, persoalan klasik pendidikan kembali mengemuka: kesenjangan akses. Bagi sebagian besar siswa di wilayah pedalaman, bimbingan belajar (bimbel) masih menjadi kemewahan, langka, mahal, dan sulit dijangkau.
Namun, di bawah kepemimpinan Gubernur Agustiar Sabran, Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah mencoba mengubah narasi itu. Melalui Dinas Pendidikan, sebuah langkah konkret dihadirkan: program Try Out Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 secara gratis, hasil kolaborasi dengan platform pendidikan digital Ruangguru.
Program yang dilaksanakan pada Jumat (10/4/2026) ini bukan sekadar agenda seremonial. Ia hadir sebagai jawaban atas realitas yang selama ini dihadapi siswa, belajar secara mandiri tanpa akses latihan soal yang memadai, tanpa simulasi ujian, dan tanpa pemahaman pola UTBK yang terus berkembang.
Di banyak wilayah pedalaman, bimbel hampir tidak tersedia. Jika pun ada, biayanya sering kali berada di luar jangkauan ekonomi keluarga. Kondisi ini menciptakan jurang yang tak kasat mata: antara siswa di perkotaan yang terbiasa dengan try out rutin, dan siswa di daerah yang harus mengandalkan keberuntungan serta ketekunan belajar sendiri.
Melalui program ini, pemerintah mencoba memutus mata rantai ketimpangan tersebut. Dengan memanfaatkan teknologi, siswa kini dapat mengakses latihan soal berkualitas, mengikuti simulasi berbasis komputer, dan merasakan atmosfer ujian yang mendekati kondisi sebenarnya. Bagi banyak siswa, ini mungkin menjadi pengalaman pertama mereka menghadapi sistem UTBK secara utuh.
Lebih dari sekadar fasilitas, program ini membawa pesan yang lebih dalam: bahwa kesempatan untuk melanjutkan pendidikan tinggi tidak boleh ditentukan oleh lokasi geografis atau kemampuan ekonomi. Pendidikan, dalam konteks ini, kembali ditegaskan sebagai hak yang harus diakses secara adil.
Kolaborasi dengan Ruangguru menjadi kunci penting dalam memastikan kualitas pelaksanaan. Platform digital memungkinkan distribusi materi dan simulasi menjangkau wilayah yang sebelumnya sulit disentuh oleh layanan pendidikan konvensional. Teknologi, yang selama ini kerap dianggap sebagai batas, justru diubah menjadi jembatan.
Langkah ini juga menandai pergeseran paradigma. Persiapan menuju perguruan tinggi tidak lagi identik dengan bimbel berbayar di kota-kota besar. Kini, dengan dukungan pemerintah dan teknologi, peluang itu mulai terbuka lebih merata, bahkan hingga ke wilayah yang selama ini berada di pinggiran peta pendidikan nasional.
Di tengah tantangan geografis dan keterbatasan infrastruktur, upaya ini mungkin belum sempurna. Namun, ia menjadi sinyal kuat bahwa perubahan sedang bergerak, perlahan, tetapi pasti.
Dan bagi siswa-siswa di pedalaman Kalimantan Tengah, try out ini bukan sekadar latihan ujian. Ia adalah pintu kecil yang mulai terbuka, menuju masa depan yang sebelumnya terasa jauh.
(rk)



