SAMPIT rubrikalteng.com
Seorang anggota keamanan perusahaan perkebunan, PT KMB, menjadi korban penganiayaan saat menjalankan patroli rutin pada Rabu (4/2/2026) malam. Peristiwa tersebut memicu perhatian warga sekaligus klarifikasi dari pemerintah desa terkait lokasi kejadian dan situasi yang berkembang di masyarakat.
Insiden terjadi sekitar pukul 21.31 WIB ketika korban bersama tim keamanan melakukan patroli di area perkebunan. Mereka menemukan sebuah mobil pikap yang diduga digunakan untuk memanen buah kelapa sawit tanpa izin. Saat tim mendekati kendaraan tersebut, mereka disebut mendapat perlawanan dari terduga pelaku yang membawa senjata tajam.
Dalam situasi tersebut, tim keamanan berupaya menyelamatkan diri. Namun korban diduga tertinggal dan menjadi sasaran penganiayaan. Sekitar 30 menit kemudian, tim kembali ke lokasi dengan tambahan personel dan menemukan korban dalam kondisi terluka parah. Korban kemudian dievakuasi ke RSUD dr Murjani Sampit untuk mendapatkan penanganan medis. Nyawanya berhasil diselamatkan meski mengalami sejumlah luka serius di bagian kepala, tangan, dan kaki.
Menanggapi kejadian itu, Pemerintah Desa Desa Tumbang Boloi memberikan klarifikasi terkait lokasi insiden. Sekretaris desa, Mostofa Yulius Tatah, menyatakan pihaknya tidak mengetahui secara rinci proses hukum yang berjalan, namun menerima laporan warga mengenai keresahan akibat kehadiran sejumlah oknum keamanan perusahaan di wilayah permukiman pada malam hari.
Ia menegaskan bahwa berdasarkan informasi yang diterima pemerintah desa, kejadian tersebut berlangsung di kawasan permukiman warga, bukan di dalam kebun perusahaan sebagaimana sempat beredar.
Pemerintah desa juga mendampingi warga masyarakat adat untuk menyampaikan keberatan melalui jalur adat kepada Damang Telaga Antang. Laporan tersebut ditembuskan ke Dewan Adat Dayak Kabupaten Kotawaringin Timur dan pihak terkait agar persoalan mendapat perhatian Klembaga adat selain proses hukum formal.
Kepala desa, Selung, menyatakan pemerintah desa hanya berperan mendampingi warga dalam menyampaikan aspirasi guna mencegah tindakan yang dapat merugikan semua pihak. Hingga saat ini, menurutnya, belum ada koordinasi resmi dari pihak PT KMB kepada pemerintah desa terkait insiden tersebut.
Perwakilan tokoh masyarakat setempat juga menyampaikan keberatan atas kehadiran oknum keamanan perusahaan di wilayah desa tanpa pemberitahuan sebelumnya. Warga menilai komunikasi dan penghormatan terhadap struktur pemerintahan desa penting untuk menghindari kesalahpahaman.
Pemerintah desa berharap persoalan ini dapat diselesaikan secara baik melalui jalur hukum dan adat sehingga hubungan antara masyarakat dan perusahaan kembali harmonis serta kejadian serupa tidak terulang.
(rk)



